Sabtu, 10 Mei 2008

Inilah Saya......

Nah, Ketika Anda membaca ini, berarti saya masih terhitung sebagai salah seorang Mahasiswi ITS, saya mengambil jurusan Statistika. Awal berada di Statistika, saya merasa salah jurusan dan benar – benar jauh dari harapan saya. Di Statistika saya selalu mendapatkan Perhitungan integral yang luar biasa Njelimetnya, seperti yang beberapa dari Anda mungkin tahu bahwa dulu di SMA saya FOBIA dengan INTEGRAL dan pernah mendapatkan inilai terJELEK saat ulangan harian Bab INTEGRAL.

Saya ini berasal dari suatu daerah paling pojok dari Kabupaten Madiun. Terletak di perbatasan Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Magetan. Namanya Desa Tambakmas, kecamatan Kebonsari. Di desa saya ini masyarakatnya tidak lagi primitive, meskipun fasilitas desa kami sangat minim, bahkan hanya untuk sekedar Fotokopi kami harus jauh keluar desa. Sekarang ada sedikit perubahan meskipun tidak banyak tapi se tidak – tidaknya sudah lumayan dan layak disebut ‘DESA’. Saya berasal dari keluarga yang terhitung biasa – biasa saja, bukan dari Juragan desa atau Pengusaha Tempe sukses. Kenapa saya bilang seperti itu?, sudah lumrah di desa kalau hanya anak seorang Juragan, Mbahurekso Desa atau Orang kaya yang bisa kuliah di tempat seperti ITS ini.
Saya tidak akan banyak ngomongin Keluarga saya, sebab itu semua bukan untuk konsumsi publik menurut saya. Akan tetapi, satu hal yang saya paling suka dari keluarga adalah kehidupan Demokrasi keluarga yang dari dulu sudah jadi kultur, saya jadi bisa berpikir lebih maju daripada anak – anak seumuran saya waktu itu. Mungkin salah satu faktornya adalah betapa berhasilnya Ayah saya menempatkan pendidikan sebagai hal nomor DUA setelah IBADAH.
Saya disekolahkan di Pondok Modern Babussalam, yang merupakan satu – satunya Pondok Modern yang ada di daerah saya, Pondok yang didirikan oleh Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor. Saya digembleng dengan berbagai ilmu agama yang merupakan tonggak hidup saya nanti, disana saya juga diwajibkan menggunakan dua bahasa yakni Bahasa Arab dan inggris. Lulus MI saya melanjutkan ke KMI Darussalam Gontor Putri di Ngawi, tetapi hanya beberapa bulan disitu saya kembali lagi ke Babussalam karena satu alasan yang entah tak seorangpun tahu termasuk saya. Setelah 3 tahun di KMI ( yang seharusnya 6 tahun ) saya memutuskan untuk pindah ke SMA Negeri, pada awalnya keluarga banyak yang menentang namun Saya tetap berusaha neyakinkan mereka kalu saya akan memberikan yang terbaik di SMA nanti. Akhirnya SMAN 1 Geger lah yang menjadi sekolah pilihan saya,tahun pertama berjalan sangat mulus dan itu merupakan jembatan masuk kelas Unggulan. Kelas 2 dan 3 saya habiskan bersama manusia – manusia hebat dari kelas A, disitu juga merupakan batu loncatan saya untuk ke ITS sini, memang kebetulan saja saya memeilih ITS padahal dari awal SMA UI-lah idaman saya. Tetapi saya tidak menyesali kalau akhirnya saya di ITS, disini saya mendapatkan apa yang dulu pernah saya inginkan. Bertemu dengan manusia – manusia super hebat di ITS ini merupakan anugerah terindah yang sangat bodoh kalau masih saja saya sesali.

Tidak ada komentar: